Jurusan
Pendidikan Ilmu Sosial, merupakan sebuah jurusan baru di fakultas ilmu social
Universitas Negeri Jakarta. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan
segala macam jenis mahasiswa yang menggantungkan asa di dalam jurusan ini,
mulai dari yang memang berkeinginan menjadi seorang guru, maupun yang tak ingin
menjadi guru pun ada. Baik yang rajin atau pun tidak, semua bersatu dan ber
simphoni dengan indah dalam sebuah naungan besar sebuah keluarga, Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial , Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta.
Membangun
masyarakat IPS yang aktif, solid dan sinergis merupakan sebuah tantangan yang
mesti dapat di wujudkan dan di laksanakan. Terutama bagi para pemangku
kekuasaan yang memiliki perananan dalam menentukan arah kebijakan bagi seluruh
masyarakat P.IPS.
Sebelum
kita beranjak jauh dengan pembahasan tentang bagaimana Membangun masyarakat IPS
yang aktif, solid dan sinergis maka kita harus tahu terlebi dahulu makna dari
kata aktif, solid, dan sinergis tersebut, barulah kita dapat mewujudkan hal –
hal tersebut.
Mari
kita mulai dengan kata “aktif”, menurut KBBI adalah giat (bekerja, berusaha),
artinya bahwa masyarakat P.IPS dapat menjadi masyarakat yang aktif baik dari
sisi pemikiran maupun dari hasil karya, dari sisi pemikiran yaitu setiap
masyarakat Pendidikan Ilmu Pengetahuan , memiliki pemikiran , ide – ide ataupun
gagasan yang bersifat membangun untuk perbaikan dan kemajuan Jurusan P.IPS.
sedangkan dari sisi karya yaitu masyarakat P.IPS mampu member kerja nyata dalam
mewujudkan P.IPS yang lebih baik dan terus berkembang.
Selanjutnya
yaitu; Solid, solid adalah sebuah keadaan dimana kita saling bekerja sama
dengan kuat demi menuju tujuan bersama, ke – solidan dan kekompakan dalam
menuju suatu Visi sangatlah di perlukan ,saling mendukung, saling membantu agar
menjadi lebih kokoh dan kuat.
Lalu ada
sinergis, sebuah hal yang di perlukan dalam sebuah organisasi, istilah sinergi
terlalu sering digunakan sebagai jargon, visi dan misi, atau semboyan, sehingga
sering kehilangan makna aslinya. Sinergi seakan – akan telah menjadi sesuatu
yang hiperbolik dan di awang-awang. Padahal, konsep ini bisa juga membumi dan
sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.
Modal dasar
dari sinergi adalah keragaman, bukan keseragaman. Perbedaanlah yang bisa
membuat sinergi. Hal ini dapat dianalogikan pada sebuah tim sepakbola.
Keinginan semua pemain adalah memasukkan bola ke gawang lawan. Jika tim
tersebut tidak bersinergi, maka semua pemain akan ingin menjadi striker.
Analogi kesinergisan dalam tim sepak bola tersebut dapat diterapkan pada
kondisi atau keadaan dalam masyarakay P.IPS. saja jika seluruh anggota
masyarakat P.IPS memaksakan kehendaknnya masing – masing. maka pasti tidak bisa
berjalan sesuai fungsinya saja jika seluruh anggota memaksakan kehendaknnya
masing – masing. pasti tidak bisa berjalan sesuai fungsinya.
Seluruh
elemen mahasiswa memiliki peran masing – masing. Pengurus atau yang kita sebut
dalam tulisan awal tadi adalah pemangku kekuasaan bekerja sebagai konseptor sekaligus motorik,
staff bekerja sebagai pelaksana, seluruh warga bertanggung jawab untuk
mengontrol kinerja dari pemangku kekuasaan , dst. Alangkah kokohnya sebuah
organisasi jika seluruh elemen dapat bersinergis.. Seluruh elemen mahasiswa
memiliki peran masing – masing dalam aspek kehimpunanan. Pengurus Harian
bekerja bekerja sebagai pelaksana, seluruh warga bertanggung jawab untuk
mengontrol kinerja himpunan, dst. Alangkah kokohnya himpunan jika seluruh
elemen dapat bersinergis.
Baik, sudah
sedari tadi kita hanya membahas tentang pengertian dan makna dari ke tiga hal
tersebut, lalu bagaimana sih caranya?. Oke. Aktif, solid, dan sinergis
merupakan sebuah kata kerja yang artinya merupakan bentuk dari apa yang telah
lakukan, maka dari itu perlunya di terapkan sebuah “Habits” yang baik dalam
masyarakat P.IPS. habits?, susah gak sih?, tentu gak susah, dalam sebuah habits
ada beberapa hal penting yaitu practice (praktek) dan repetition (pengulangan)
hal hal tersebut lah yang dapat mengubah habits dari suatu individu maupun
kelompok menjadi lebih baik lagi dan mencapai tujuan yang di inginkannya.
Lalu apa sih
peran pemegang kekuasaan atau pemangku jabatan atau para pengurus ini, mungkin
pengurus HIMA P.IPS yang kita cintai ini?. Mari menyelam lebih jauh tentang apa
yang bisa kita laukan sebagai seorang individu untuk membuat sebuah perubahan
dalam sebuah mayrakat yang kali ini kita ambil contoh adalah masyarakat P.IPS
(Mahasiswa P.IPS).
Kita mulai
dengan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik yang dapat men sinergikan,
men solid kan dan membuat rakyatnya menjadi pribadi yang aktif.siap?. baik.
Menjadi
seorang PEMIMPIN SEJATI bukanlah hal yang mudah. Banyak orang yang mengalami
kesulitan ketika diberi tanggung jawab untuk mengorganisasikan suatu sistem.
Akan tetapi banyak pula yang menganggap memimpin adalah hal yang mudah, tidak ubahnya
seperti layaknya seorang BOSS yang menerapkan otoritas pada bawahan.
Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang.
Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari
keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi
keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan
bahkan bagi negerinya.
Ketika setiap usaha, ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika dengan keberadaannya dia berusaha mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati.
Ketika setiap usaha, ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika dengan keberadaannya dia berusaha mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati.
Justru seringkali
seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang
dipimpinnya. dia AKAN BEKERJA DALAM DIAM, diam di sini bukan berarti dia tak
berbicara sama sekali, namun dia akan bekerja dengan ikhlas, tak perlu
mengumbar apa saja yg telah di lakukan dan tak pernah menghina apa yg
partnernya lakukan, itu pengecut, omdo. Bahkan ketika suatu misi atau tugas
terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan
mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya, karena merekalah tugas menjadi sukses.
mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya, karena merekalah tugas menjadi sukses.
Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat
(encourager), motivator, inspirator, dan maximizer. Konsep pemikiran seperti
ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin
konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and
praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan,
semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan
sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble)!!.
Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal,
Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk
melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-
galanya bagi seorang pemimpin sejati. Kematangan dan kedewasaan. Tanpa
perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya
integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi
serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.
Lalu bagaimana atau apa yang di butuhkan dalam menjadi
seorang pemimpin sejati ini
?. ini dia konsep kepemimpinan 3H, (Heart, Head, Hand).
?. ini dia konsep kepemimpinan 3H, (Heart, Head, Hand).
3H (Heart,
Head, Hand) ini merupakan suatu metode kepemimpinan, dasar atau Filosofi metode
ini adalah berasal dari slogan ''Iman, Ilmu dan Amal'' lalu saya
re-presentatifkan dalam ''Heart(Iman), Head(ilmu), hand(amal). Mari kita kaji
metode kepemimpinan ini..
1. Heart
/ hati / niat.
Dalam sebuah
kepemimpinan sudahlah tentu harus memiliki heart
(hati/ niat) yang baik, nah kebanyakan pemimpin sekarang memiliki niatan yang
tak tulus untuk menjadi ''abdi'' untuk khalayak yg di pimpinnya, mereka pragmatis,
mengharapkan timbal balik,balasan, atau ketenaran. Hal ini dapat terlihat dalam
fenomena ''pencitraan''. Fenomena ini adalah hasil dari pemimpin yg pragmatis.
Dalam blog saya, saya menuliskan. ''Apa yang telah kita lakukan, apalagi itu
kebaikan, sungguh tak perlu d rayakan, di umbar. Cukup merayakan dalam
kerendahan hati, diam. Tak perlu hal-hal mewah lagi mahal dalam merayakan
sesuatu. Apa yang telah kita lakukan untuk kepentingan dan kemaslahatan umat
merupakan perayaan sesungguhnya. Karena kita tak pernah tau apa yang akan
terjadi di masa yang akan datang, apakah baik, atau keburukan. Yang jelas
jangan terlalu berlebihan dan ingin di kenang, Cukup para almarhum-almarh umah
. selalu bersyukur dan berdoa juga berharap dapat melakukan yang lebih baik
lagi.''
2. Head (pola pikir, inovasi)
Walaupun seorang pemimpin memiliki niat yg baik, namun
jika dia tak bisa meng-konsepkan apa yang ia pikirkan dalam suatu skema atau
apapun itu, maka dia tak bisa melakukan hal2 besar. Kemampuan berkreasi,
berpikir kritis, memecahkan masalah di perlukan dalam kepemimpinan yang berdaya
guna.
3. Hand (amal / kerja nyata)
Setelah kita memiliki niat yg baik dan konsep yang
cemerlang maka tahap akhir yang termasuk ''sulit'' di lakukan oleh semua orang
adalah kerja nyata ini. semua konsep2 besar itu hanyalah sekedar konsep jika
tak di aplikasikan. karena di dunia ini kebanyakan orang hanya rencana,
rencana, konsep dan konsep, kritis hanya sekedar kritik tak memberi arti.
Semoga kita dan / pemimpin2 kita memiliki ke-3H ini.
Aamiin..
Aamiin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar